
Sumber: PNGitem
Urgensi HKSR dan Tingkat Pemahaman HKSR Anak Muda
Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) merupakan bagian dari hak asasi manusia yang menjamin setiap individu berhak memperoleh informasi dan layanan terkait kesehatan reproduksi mereka. Kurangnya akses terhadap informasi HKSR dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti HIV/AIDS, kehamilan yang tidak direncanakan, serta komplikasi kehamilan yang dapat berujung pada kematian ibu dan bayi.
Saat ini, banyak anak muda perempuan yang masih belum mendapatkan edukasi yang memadai mengenai HKSR, sehingga mereka lebih rentan melakukan hubungan seksual tanpa memahami konsekuensinya. Tren ini semakin meningkat seiring dengan perubahan pola pikir generasi muda yang lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Data menunjukkan bahwa 46,7% remaja perempuan tidak mengetahui tentang masa subur wanita, sementara 9,8% bahkan tidak pernah mendengar istilah tersebut. Selain itu, sebanyak 42,7% anak muda perempuan tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS). Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menghapus stigma dan meningkatkan akses terhadap informasi HKSR guna melindungi kesehatan serta masa depan generasi muda.

Sumber: Jawa Pos
Tantangan yang Dihadapi Anak Muda
Dalam penyebaran informasi mengenai HKSR, terdapat berbagai tantangan, salah satunya adalah stigma sosial yang masih kuat. Banyak remaja perempuan merasa enggan atau takut mencari informasi tentang HKSR karena khawatir mendapat stigma negatif dari masyarakat. Stigma ini menjadi penghalang bagi mereka untuk memperoleh pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi, padahal informasi tersebut merupakan hak dasar setiap individu. Selain itu, di beberapa daerah, kebijakan terkait edukasi HKSR masih belum tersedia secara memadai, sehingga banyak masyarakat yang kurang memahami pentingnya hak dan kesehatan reproduksi. Kurangnya akses terhadap sumber informasi yang akurat juga menjadi masalah serius. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang memperoleh informasi dari sumber yang tidak akurat yang justru dapat menyesatkan dan meningkatkan risiko perilaku seksual yang tidak aman.
Peran Anak Muda dalam Keberhasilan HKSR
Jika anak muda mendapatkan edukasi yang tepat mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), mereka dapat berperan besar dalam menyebarluaskan informasi ini kepada sesama. Peran mereka sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan menghapus stigma di masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menyebarkan Informasi Melalui Media Sosial
Media sosial telah menjadi alat utama bagi anak muda dalam mengakses dan menyebarkan informasi. Dengan memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, pesan-pesan tentang HKSR dapat menjangkau audiens yang lebih luas secara cepat dan efektif. Kampanye masif di media sosial juga dapat meningkatkan kesadaran publik serta mendorong lebih banyak diskusi mengenai pentingnya HKSR.
- Menjadi Pengajar
Sebagai edukator sebaya, anak muda perempuan dapat membantu teman-temannya mendapatkan informasi yang akurat mengenai HKSR. Banyak remaja mungkin merasa enggan mencari informasi sendiri karena adanya stigma atau ketakutan akan penilaian sosial. Dengan pendekatan edukasi sebaya, mereka bisa lebih nyaman dalam berdiskusi dan memahami hak serta kesehatan reproduksi mereka.
- Melawan Stigma yang Masih ada di Masyarakat
Edukasi yang semakin luas di kalangan anak muda perempuan dapat membantu menghilangkan stigma bahwa HKSR adalah topik tabu. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa informasi HKSR penting bagi semua orang, anak muda dapat berkontribusi dalam membangun lingkungan yang lebih terbuka, inklusif, dan mendukung hak kesehatan seksual serta reproduksi bagi setiap individu.
Kesimpulan
Peran anak muda dalam mendorong Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sangatlah krusial untuk memastikan setiap individu mendapatkan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang layak. Meskipun masih terdapat berbagai tantangan, seperti stigma sosial, kurangnya kebijakan yang mendukung, serta keterbatasan akses terhadap informasi yang akurat, anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui berbagai upaya. Dengan memanfaatkan media sosial, mereka dapat menyebarluaskan edukasi mengenai HKSR secara luas dan efektif. Selain itu, menjadi edukator sebaya memungkinkan anak muda untuk membantu teman-temannya memahami pentingnya kesehatan reproduksi dalam lingkungan yang lebih nyaman dan bebas stigma. Dengan terus melawan stigma yang ada di masyarakat, anak muda juga dapat mendorong perubahan budaya yang lebih inklusif dan terbuka terhadap diskusi HKSR.
Penulis: Olyvia Wijaya(Volunteer WEI Batch 9)
Editor: Cut Raisa Maulida
Referensi
Andriani Buaton, Ahmad Syukroni Sinaga, and M. Ancha Sitorus. “PENGETAHUAN REMAJA DAN KETERPAPARAN INFORMASI REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI KNOWLEDGE and EXPOSURE INFORMATION of ADOLESCENTS about REPRODUCTIVE HEALTH,” June 1, 2019. https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/contagion/article/viewFile/7210/3225.
Aliansi Remaja Independen. “HKSR.” Ari.or.id, 2024. https://ari.or.id/tentang/hksr/.
