
(Sumber gambar: Pinterest)
Barbie can be anything, women can be anything. Perempuan bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan, bisa jadi dokter, hakim, bahkan presiden. Mereka memiliki kebebasan untuk meraih impian tanpa terbelenggu stigma atau standarisasi sosial. Namun, film Barbie tidak hanya menggambarkan kebebasan perempuan, tetapi juga dinamika sosial yang kompleksitas gender, baik di dunia Barbie maupun di dunia nyata.
Di Barbieland, perempuan memiliki kekuasaan penuh. Mereka memegang posisi penting sebagai presiden, ilmuwan, dokter, bahkan hakim. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk berkembang, dan mereka dihormati serta diapresiasi atas segala pencapaian mereka. Sebaliknya, laki-laki atau Ken hanya dianggap sebagai pelengkap Barbie tanpa peran yang berarti.
Barbieland adalah gambaran kehidupan ideal bagi perempuan, di mana mereka memiliki kendali penuh atas hidup mereka tanpa harus tunduk pada sistem patriarki. Namun, Barbieland juga menunjukkan bagaimana perempuan dituntut untuk selalu sempurna. Barbie digambarkan sebagai perempuan dengan kecantikan sempurna. Salah satu adegan yang mencerminkan standar ini adalah ketika Barbie mengalami perubahan pada kakinya, yang tiba-tiba menjadi rata. Di dunia Barbie, kaki Barbie selalu berbentuk seperti high heels, melambangkan kesempurnaan dan feminitas. Ketika perubahan ini terjadi, Barbie mulai merasa ada yang salah, yang kemudian menjadi alasan ia pergi ke dunia nyata untuk mencari Gloria, pemilik boneka Barbie.
Adegan ini menunjukkan bahwa kecantikan dan kesempurnaan dalam Barbie secara tidak langsung telah membentuk standar yang tinggi bagi perempuan di dunia nyata. Banyak perempuan merasa harus sempurna dengan memiliki tubuh ideal, wajah cantik, serta mampu menguasai berbagai aspek kehidupan. Mereka tidak hanya dituntut untuk sukses dalam karier, tetapi juga di kehidupan pribadi, seperti menjadi ibu yang baik, pasangan yang selalu patuh melayani, tetapi juga harus tetap menjaga penampilan mereka.
Salah satu kutipan Gloria ketika ia menyemangati Barbie untuk mengubah sistem Barbieland sangat menggambarkan apa yang dirasakan perempuan di dunia nyata. Gloria menyampaikan bahwa perempuan selalu dituntut untuk menjadi luar biasa, tetapi di saat yang sama, mereka selalu dianggap salah. Perempuan harus kurus, tapi tidak boleh terlalu kurus. Harus memiliki uang, tapi tidak boleh meminta uang. Harus menjadi pemimpin, tapi tidak boleh dianggap terlalu dominan. Harus menjadi ibu yang baik, tapi juga harus sukses dalam karier. Mereka selalu diawasi, dihakimi, dan dikritik dari segala arah tanpa pernah mendapatkan penghargaan atas perjuangan mereka. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang masih terjadi di dunia nyata, di mana perempuan terus-menerus merasa tidak cukup baik karena standarisasi sosial yang mengekang mereka.
Ketika Barbie memasuki dunia nyata, ia dihadapkan pada kenyataan yang berbeda. Dunia nyata masih didominasi oleh sistem patriarki, di mana laki-laki memiliki lebih banyak hak istimewa dan berkuasa dalam pekerjaan, pemerintahan, dan masyarakat. Perempuan sering kali harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan laki-laki. Berbeda dengan ken, ketika Ken tiba di dunia nyata, ia menemukan bahwa laki-laki memiliki lebih banyak kekuasaan dan privilege dibandingkan perempuan. Namun, Barbie bukanlah film yang bertujuan untuk menjadikan perempuan lebih unggul dari laki-laki, melainkan untuk menciptakan keseimbangan di mana semua gender bisa memiliki kebebasan yang sama. Kesetaraan gender bukan hanya soal perempuan, tetapi juga bagaimana perempuan dan laki-laki bisa bekerja sama tanpa adanya kesenjangan. Tanpa patriarki, kesetaraan gender berarti semua orang memiliki kebebasan untuk memilih jalannya sendiri, dihormati, dan diperlakukan setara.
Pada akhirnya, dunia bukanlah tempat yang dikuasai oleh satu gender saja, melainkan dunia di mana setiap individu bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri tanpa harus dibatasi oleh ekspektasi sosial atau stereotip.
Penulis: Fatiya Aulia Muthmainnah (Volunteer WEI Batch 9)
Editor: Cut Raisa Maulida
Referensi
Hadi, I. C. (2023, Agustus 8). Barbie, kritik sosial untuk kesetaraan gender dan standar ganda wanita dalam masyarakat. Kompasiana.
Pohan, S., Yusuf, F. A., & Amalina, F. (2024). Kesetaraan gender egalitarianisme dalam narasi film Barbie melalui perspektif konstruktivisme. Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting, 4(2), 869-879. DOI: 10.47467/dawatuna.v4i2.5553
Pebrina, I. (2023, Agustus 10). Isu kesetaraan gender dalam film Barbie (2023), patriarki atau matriarki? Bilik Sastra.
