
(Sumber: Unsplash)
Maskulinitas mengacu kepada kumpulan kebiasaan, peran, dan sifat yang biasanya dikaitkan dengan laki-laki di masyarakat. Maskulinitas juga sering kali dikaitkan dengan kekuatan fisik, keberanian, dominasi, dan ketegasan. Namun, maskulinitas dapat ditunjukkan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Jadi, alih-alih didorong oleh biologi, maskulinitas dibangun dan didefinisikan secara sosial, sejarah, dan politik. Menyebabkan maskulinitas terkait dengan budaya patriarki selain dengan konsep gender.
Dalam budaya patriarki, laki-laki dianggap sebagai kelas pertama, sementara perempuan ditempatkan pada kelas kedua. Laki-laki juga banyak mengontrol posisi di tingkat publik dan sentral. Hal tersebut menjadi faktor yang menyebabkan hegemonic masculinities, yakni maskulinitas yang mendominasi dan mempertahankan budaya patriarki dalam masyarakat.
Apa itu Hegemonic Masculinities?
Raewyn Connell dalam bukunya yang berjudul “Masculinities” mengklasifikasikan empat jenis maskulinitas. Salah satunya adalah Hegemonic masculinities yang merupakan nilai yang berada di tingkat tertinggi dalam hierarki gender dan berfungsi untuk menunjukkan dominasi, kekuatan, keberanian, dan legitimasi baik secara fisik maupun mental. Connell menggambarkan individu yang mengadopsi hegemonic masculinities sebagai sosok yang keras dan juga kasar. Hegemonic masculinities dapat berubah menjadi toxic ketika hal tersebut didominasi oleh kekuatan dan kekerasan yang dijadikan sebagai praktik untuk mendapatkan sebuah kekuasaan.
Dengan adanya hegemonic masculinities, laki-laki maskulin menjadi lebih diutamakan dalam pendidikan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan dibandingkan perempuan atau individu dengan identitas gender dan orientasi seksual yang tidak sesuai dengan norma maskulinitas dominan, yang sering kali dianggap subordinat. Perempuan dianggap sebagai individu yang lemah dan hanya diperbolehkan mengurus rumah tangga, sementara laki-laki juga memiliki stereotip yang sering kali merugikan mereka. Laki-laki dianggap harus selalu tegar, kuat, pantang mengekspresikan emosi, mendominasi dalam kekuatan, jabatan strategis, dan menunjukkan maskulinitas agar tidak dianggap sebagai sosok yang “lemah”. Hal ini jelas merugikan tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki yang diharuskan berperilaku sesuai dengan konstruksi maskulinitas.
Dampak Hegemonic Masculinities bagi sekitar
Laki-laki yang memiliki otoritas signifikan dan berfungsi sebagai pusat kontrol dalam sistem sosial memberikan dampak besar terhadap lingkungan di sekitar mereka, Sehingga kelompok marginal, seperti perempuan dan laki-laki yang lebih feminim, terus mengalami diskriminasi hingga saat ini. Keyakinan terhadap sistem ini yang berlangsung lama menyebabkan sebagian perempuan menerima posisi mereka sesuai dengan gagasan bahwa mereka tidak memiliki kewenangan atas dirinya sendiri. Mereka lebih menganggap persepsi ini sebagai sesuatu yang harus diterima dan diwariskan secara turun-temurun.
Kasus ini dapat ditemukan dalam sistem garis keturunan patrilineal, di mana garis keturunan diturunkan dari pihak ayah. Hal ini terlihat dari kebiasaan anak menggunakan nama belakang sang ayah dibandingkan nama belakang ibu. Garis keturunan ini populer di seluruh dunia sehingga kasus ini dapat digambarkan sebagai salah satu dari dampak hegemonic masculinities.
Contoh kasus lainnya, bisa dilihat dari pembagian kerja di dalam keluarga atau rumah tangga antara perempuan dan laki-laki. Perempuan umumnya diminta untuk mengurus anak, memasak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya, sementara laki-laki bertanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Namun, di masa kini, semakin banyak perempuan yang memilih untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga peran mereka tidak lagi terbatas pada urusan rumah tangga dan anak.
Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga merupakan salah satu dampak dari adanya Hegemonic Masculinities. Kekerasan fisik dialami perempuan di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman, dilatarbelakangi oleh ketidaksesuaian harapan sang suami terhadap istrinya. Tindakan kekerasan ini dilakukan supaya sang istri tunduk dan memenuhi harapan suami tanpa menentang karena posisinya dianggap lemah dan tidak berdaya.
Dengan demikian, diharapkannya dengan memahami dan menghargai setiap gender—baik laki-laki maskulin, laki-laki feminim, perempuan maskulin, ataupun perempuan feminin—kita memiliki pandangan yang lebih luas dan inklusif. Tidak membatasi perempuan dalam praktik sosial seperti bekerja atau berkarir, mendapatkan dukungan, dan tidak menormalisasi bahwa hanya laki-laki yang harus bekerja di sektor publik. Sebaliknya menormalisasikan bahwa tidak apa-apa bila laki-laki yang bekerja mengurus rumah dan anak, sementara perempuan yang bekerja menghidupi anak dan suaminya. Terakhir, wacana mengenai laki-laki yang harus bersikap maskulin harus berhenti dinormalisasikan. Tidak semua laki-laki harus keras dan berkuasa, sebab maskulinitas bukanlah atribut yang melekat pada seseorang, melainkan sebuah nilai yang dapat dimiliki oleh siapapun, baik laki-laki maupun perempuan.
Penulis: Frensca Renata (Volunteer WEI Batch 9)
Editor: Desy Putri R.
Referensi
Apriliandra, S., & Krisnani, H. Perilaku diskriminatif pada perempuan akibat kuatnya budaya patriarki di Indonesia ditinjau dari perspektif konflik. Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran.
Alimi, R., & Nurwati, N. (2021). Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran.
Bahasan Sosiologi. (2023, 4 Agustus). Pengertian maskulinitas, macam, teori, dan 8 contohnya. Diakses dari https://dosensosiologi.com/pengertian-maskulinitas/#Macam_Maskulinitas
Kusnandar, J. H. (2023). Stigma maskulinitas di tengah budaya patriarki: Analisis teori solidaritas sosial Emile Durkheim. S1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya.
Sulaeman, R., Putri, N. M. W. F., Purnamawati, D., & Sukmawati. (2022). Faktor penyebab kekerasan pada perempuan. Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram.
Susmawati, H. ZM, Hamidsyukrie, A. Wahidah, & Masyhuri. (2024). Tradisi nyesek: Belenggu bagi perempuan suku Sasak ditengah hegemoni maskulinitas. Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Mataram.
Wahidah, A., ZM, H., Fauzan, A., Malik, I., & Susmawati. (2024). Media online: Media baru bagi eksistensi kekerasan gender pada mahasiswa di tengah hegemoni maskulinitas masyarakat. Program Studi Pendidikan Sosiologi, FKIP, Universitas Mataram
