Fenomena Glass Ceiling Dalam Kiprah Karir Kepemimpinan Perempuan.

Bukti Fenomena Glass Ceiling Di Perusahaan?

Dalam dunia publik, fenomena glass ceiling menjadi hal yang masih sering kita temui dalam rutinitas bekerja. Dimana kita pernah mendengar seorang eksekutif perempuan yang cerdas dan berprestasi namun sulit untuk dipromosikan menjadi CEO tanpa diketahui alasan sebenarnya, kemudian ada juga kasus perwira perempuan yang handal dan cemerlang namun tidak memiliki kesempatan mendapatkan posisi tertinggi kecuali hanya sampai jenderal saja, dan masih banyak hal kecil lainnya yang tergolong sebagai fenomena glass ceiling dan justru “dilanggengkan” oleh masyarakat dan perusahaan untuk terus diterapkan.

Salah satu bukti fenomena glass ceiling di Indonesia adalah dalam perekrutan jabatan struktural bagi ASN perempuan yang penulis lansir dari laporan Badan Kepegawaian Negara, dimana jumlah ASN yang diterima terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya.

Pada tahun 2013, tingkat penerimaan ASN hanya mencapai 48,18%. Namun, di tahun 2020 meningkat ke angka 52,52%, akan tetapi hal ini tidak sejalan dalam penempatan jabatan struktural terutama dalam kedudukan jabatan-jabatan tinggi.

Walaupun jumlah ASN perempuan menjadi mayoritas saat ini, namun perempuan hanya mengisi sekitar 23,24% dengan jabatan eselon I-IV pasca ditetapkannya UU ASN (KSI Indonesia, 2019). Hal tersebut dapat dilihat pada tahun 2018 yang mana jabatan eselon I di 34 Kementerian Indonesia hanya terisi oleh 23,62% ASN perempuan. 

Mirisnya, ketimpangan tersebut semakin jelas di beberapa pemerintahan daerah, seperti yang terjadi di Pemda Provinsi Nusa Tenggara Timur di mana daerah tersebut tidak memiliki perempuan yang menduduki jabatan di eselon I, hanya 14,29% ASN perempuan dengan jabatan eselon II, dan hanya 25,56% perempuan yang menduduki jabatan eselon III dalam data BKD Provinsi NTT Tahun 2020. Hal ini juga terjadi di Pemda Kota Bandar Lampung dimana berdasarkan data dari Maryanah dkk dengan judul Perempuan Dalam Birokrasi Pada Pemerintah Kota Bandar Lampung Tahun 2019, menunjukkan bahwa tidak ada perempuan yang menduduki jabatan eselon I dan hanya sekitar 30% perempuan yang menduduki jabatan eselon II.

Dengan jumlah populasi ASN perempuan yang tinggi tentu hal ini tidak seimbang dalam struktur kekuasaan di dalam perekrutan jabatan struktural bagi ASN perempuan. Dan ini menjadi bukti kuat bahwa fenomena glass ceiling ada di Indonesia dan perempuan karir di pemerintahan juga mengalami hal ini, tentunya selain perempuan yang berkarir di perusahaan swasta.

Penyebab Timbulnya Fenomena Glass Ceiling

Adapun penyebab dari timbulnya fenomena glass ceiling ini disebabkan oleh beberapa faktor dalam dunia kerja yakni:

Share this post:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *