Dampak Kesehatan Mental pada Siklus Menstruasi: Saat Stres Mengambil Kendali 

Sumber: Gillian Levine for Leafly)

Kesehatan reproduksi adalah indikator penting dari kesehatan perempuan secara keseluruhan. Perempuan sering kali menderita masalah yang berkaitan dengan hormon dan menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa alami dan pengalaman unik bagi perempuan usia reproduksi. Siklus menstruasi didefinisikan sebagai peristiwa siklus yang terjadi secara berirama selama periode reproduksi kehidupan seorang perempuan. Siklus menstruasi perempuan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk keseimbangan hormon, pola makan, gaya hidup, dan kesehatan mental. Salah satu faktor yang sering kali diabaikan tetapi memiliki dampak signifikan adalah stres. Tingkat stres yang tinggi dari  seseorang akan mempengaruhi ritme alami tubuh, yang dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur, nyeri haid (dismenore) yang lebih parah, bahkan bisa sampai menghentikan siklus sepenuhnya. 

Bagaimana Stres Mempengaruhi Hormon?

Siklus menstruasi adalah indikator fungsi reproduksi, yang rentan terhadap gangguan akibat stres, insomnia, dan depresi. Ketidakteraturan siklus menstruasi seperti amenore dan perubahan gejala menstruasi dan pra menstruasi sering dilaporkan oleh perempuan dengan gangguan suasana hati seperti kecemasan dan depresi, atau oleh mereka yang menghadapi stres. 

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon tubuh yaitu hormon kortisol. Kortisol dikenal sebagai “hormon stres”, yang berfungsi membantu tubuh menghadapi tekanan atau ancaman. Namun, apabila hormon ini terus menerus diproduksi dalam jumlah yang tinggi, akan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi pada perempuan seperti hormon estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan hormon tersebut akan berefek pada pola normal siklus menstruasi, akibatnya siklus bisa menjadi tidak teratur, periode menstruasi lebih lama atau lebih cepat, atau bahkan terhenti. Selain itu, stres dapat berdampak pada hipotalamus, bagian otak yang mengontrol sistem endokrin, yang akhirnya berpengaruh pada produksi hormon luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH) yang mengatur ovulasi pada perempuan. 

Dampak Stres pada Siklus Menstruasi 

Dampak stres pada siklus menstruasi perempuan dapat berbeda pada setiap individu. 

  1. Siklus Menstruasi Tidak Teratur

Stres dapat menyebabkan keterlambatan menstruasi atau membuat siklus menjadi lebih pendek atau lebih panjang dari biasanya. Panjang siklus menstruasi umumnya 28 hari, tetapi dalam kondisi fisiologis, dapat bervariasi antara 20 dan 40 hari. Menstruasi normal berlangsung selama 2 hingga 7 hari dan terjadi setiap 21-35 hari. Namun, 14 hingga 25% wanita mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, yang berarti menstruasi mereka lebih berat atau lebih ringan dari biasanya, berlangsung lebih dari 35 hari atau lebih pendek dari 21 hari. Pada beberapa kasus, wanita mengalami haid lebih sering dari biasanya atau justru mengalami amenorea (tidak haid selama lebih dari tiga bulan) akibat stres kronis.

  1. Peningkatan Gejala PMS (Premenstrual Syndrome)

Pengalaman siklus ini dapat mempengaruhi kesehatan mental perempuan melalui berbagai mekanisme. Sebagai contoh, banyak perempuan mengalami ketidaknyamanan fisik (misalnya, dismenore, nyeri payudara, nyeri sendi) di periode sebelum dan juga periode sekitar menstruasi. Ketidaknyamanan fisik ini dapat dikaitkan dengan peningkatan tekanan psikologis dan tingkat stres. Banyak perempuan juga melaporkan peningkatan konflik interpersonal dan berkurangnya keterlibatan sosial sebelum menstruasi dan selama menstruasi, yang dapat berkontribusi pada depresi dan isolasi. 

  1. Dampak pada Kesuburan

Kehidupan reproduksi ditandai dan dipengaruhi oleh ritme siklus menstruasi dan oleh perubahan hormon yang terkait. Mendapatkan siklus yang tidak teratur telah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan subfertilitas. Faktor utama dalam infertilitas perempuan adalah kegagalan untuk berovulasi. Siklus menstruasi yang tidak teratur dapat mengindikasikan masalah ovulasi yang berdampak pada kesulitan untuk mengandung.  

  1. Perubahan Pola Perdarahan

Sebagian perempuan mengalami haid yang lebih berat atau lebih sedikit dari biasanya ketika sedang mengalami stres tinggi. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi lapisan endometrium di dalam rahim. Ketidakteraturan menstruasi juga termasuk pendarahan atau bercak di antara haid, pendarahan atau bercak setelah berhubungan seks. 

Cara Mengelola Stres untuk Menjaga Kesehatan Siklus Menstruasi

Agar siklus menstruasi tetap teratur dan kesehatan reproduksi tetap optimal, penting untuk mengelola stres dengan baik. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Latihan Relaksasi

Latihan relaksasi seperti meditasi, yoga, dan teknik pernapasan terbukti dapat membantu mengurangi kadar stres dan menstabilkan hormon tubuh. 

  1. Olahraga Teratur

Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan keseimbangan hormon. Namun, hindari olahraga berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan menstruasi.

  1. Pola Makan Sehat

Konsumsi makanan yang kaya akan nutrisi, seperti sayuran hijau, protein, dan lemak sehat, untuk mendukung keseimbangan hormon. Hindari juga untuk konsumsi kafein dan gula berlebihan yang dapat meningkatkan kadar kortisol.

  1. Tidur yang Cukup

Tidur yang cukup selama 7-9 jam per malam, penting untuk menjaga keseimbangan hormon dan mengurangi stres.

  1. Mencari Dukungan Emosional

Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental dapat membantu mengelola stres dan mengurangi dampaknya pada tubuh.

Stres bukan hanya mempengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat berdampak langsung pada siklus menstruasi perempuan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dampak stres terhadap tubuh dan menerapkan strategi yang efektif untuk mengelolanya. Dengan gaya hidup sehat dan dukungan yang tepat, perempuan dapat menjaga keseimbangan hormon serta kesehatan reproduksi mereka.

Penulis: Fildza Kamila (Volunteer WEI Batch 9)

Editor: Cut Raisa Maulida

REFERENSI

Chatterjee, N., & Choudhury, S. (2022). Impact of stress on reproductive health and menstrual cycle irregularities: A review. Journal of Women’s Health Research, 10(2), 45-52.

Kim, H. G., Cheon, E. J., Bai, D. S., Lee, Y. H., & Koo, B. H. (2020). Stress and heart rate variability: A meta-analysis and review of the literature. Psychiatry Investigation, 17(1), 1-10.

Rizvi, S. W., Noordin, S., & Siddiqui, F. (2021). Effects of chronic stress on endocrine and reproductive health in women: A systematic review. International Journal of Women’s Health, 13(1), 123-135.

Roos, J., Johnson, S., Weddell, S., Godehardt, E., Schiffner, J., Freundl, G., & Gnoth, C. (2021). The relationship between stress, reproductive hormones, and menstrual cycle characteristics. Scientific Reports, 11(1), 234-249.

Witchel, S. F., Oberfield, S. E., Peña, A. S., & Polycystic Ovary Syndrome International Task Force. (2020). The impact of stress on adolescent reproductive health. Hormone Research in Paediatrics, 93(1), 11-21.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *